Skip to main content

Jadwal Bus Als - Medan ke Bukit Tinggi via Danau Toba

Jadwal Bus Als Bukit Tinggi
Jadwal Bus Als Bukit Tinggi

PO BUS ALS: SANG PENGELANA DARI SUMATERA UTARA

Doa terkabul. Saya dapat jatah armada sang legenda yang lain: PO Antar Lintas Sumatera (ALS) tujuan Padang: tanpa tameng, tanpa bando! Tumben pula, sasisnya sama seperti kemarin malam, Mercerdes-Benz 1626.

Kehadiran saya di Medan serba berada dalam situasi "jam mepet", mirip armada-armada "putar balik"-an di musim liburan. Bagaimana tidak, tiba pukul 08.39 di pool PMTOH dan saya sudah harus hadir di pool ALS pukul 11.00 karena jadwal keberangkatan bis tersebut rupanya pukul 12.00, bukan 14.00 seperti yang saya kira sebelumnya.

Di antara rentang waktu dua jam lebih ‘sikit’ itulah, saya diselamatkan oleh Trio Kwek-Kwek asal Medan (Frans, Iqbal, Canaka + Fendi) agar masih leluasa melibas kuliner lokal: soto Medan. TKP wisata lidahnya alamak jauhnya: RM. Sinar Pagi, namun dekat sekali dengan tugu SIB (Sinar Indonesia Baru). Tak apalah, kelezatannya impas, kok, dan tak akan saya ceritakan sekarang, khawatir liur bertumpahan memenuhi layar.

Persepsi tentang kecepatan dan kemewahan yang disematkan untuk bis-bis Aceh tidak dapat mengubah anggapan saya tentang ALS yang sudah lama tertanam: trayek jauh dan ‘selow’. Itu dia dua kata kuncinya.

Als Bus
Als Bus

Lambaian tangan saya gerakkan seperti wiper di kaca samping untuk para pengantar: Iqbal aka Gobel, Frans, Canaka, Fendi, Toni, dan Ayu (yang bantu belikan tiket bis ini). Bis berjalan lemot menapak aspal. Selain mengantuk karena melek semalam, itulah alasan yang bikin saya ambil keputusan untuk tidur saja. Bangun-bangun, saya lihat papan nama di toko: Kampung Rambutan. Nah, Jakarta jangan sombong! Nama kampung ini bukan cuma ada di ibu kota.

Di SPBU 14.202.154 Padang Hulu, sopir minta obat demam ke kernet, tapi saya yang berangkat ke toko. Itu-itung cari perhatian, bah! Disekaliankan, saya beli cemilan dan minuman. Agaknya, dia minta ganti posisi, pindah ke ‘kandang macan’ padahal baru saja jalan. Dugaan saya, dia mengantuk.

Saat sopir tengah yang bawa, laju bis jadi lebih trengginas, tapi tetap tak seganas bis-bis Aceh seperti yang semalam saya rasakan. Pasalnya, kontur jalan tak memungkinkan untuk membalap. Orang yang sama, pengalaman yang sama, akan berbeda perlakuannya jika berada di lingkungan berbeda.

Tebingtinggi, Pabatu, Simalungun, hingga Sinaksak di Pematang Siantar dilaluinya secara santai. Pemandangan kebun sawit di kanan-kiri jalan cenderung membosankan, apalagi memang tidak bakal ada cerita kejar-kejaran dengan bis yang ada depan ataupun yang menyusul di belakang. Saingannya adalah truk-truk berat. Di ruas itu, ALS bagaikan seorang artis elekton yang sedang beraksi "one man show".

Azan asar berkumandang saat kami masuk Siantar. PO Intra—yang warna liverynya identik dengan ALS—sangat banyak ditemukan di sini. Pukul 16.26, kami keluar dari rumah makan setelah masuk setengah jam sebelumnya. Sopir pinggir—yang tadi mengaku demam—kini kembali duduk di belakang kemudi.

"Bagaimana?" tanya saya basa-basi.
"Sudah nyaman."

Di sekitar Univ. Simalungun, jalanan sesak, sore itu. Dan saat jam menunjukkan angka 17.15, bis mulai masuk hutan. Kelak-kelok pun dimulai. Saya intip odometernya: ternyata kami baru melahap 154 km lepas dari Medan sementara waktu tempuh sudah habis 5 jam lebih (potong waktu makan 25 menitan). Bantu saya menghitung, berapakah kecepatan rata-rata bis ini?

Tikungan-tikungan mengular yang kami lalui dari tadi rupanya hanyalah mukaddimah untuk trek yang "indah namun kejam": pemandangan Danau Toba dari ketinggian. Tebing dan jurang bersisian. Ruas jalan yang tak seberapa lebar kian disempitkan oleh truk-truk besar dan tronton. Sesekali dua kendaraan yang berpapasan harus berhenti dan mengalah, mundur atau turun ke tanah. Janganlah sampai kamu terjatuh ke jurang kecuali sanak kerabat akan menemukanmu di Harian Waspada atau koran Analisa, esok paginya.

ALS masuk terminal Parapat, dekat danau, di kaki bukit yang terjal. Gunung Sihabuhabu tak begitu serlah dipandang karena hari menjelang gelap. Lokasi terminal ini mirip Pronojiwo di Malang, tapi yang ini lebih besar dan tentu saja lebih menarik panoramanya.

Bus Als Via Danau Toba

Sekitar rentang waktu isapan sebatang kretek, kami bergerak lagi. Seorang penumpang naik dari sini. Gunung-gunung berselendang kabut. Dingin menjelaskan dirinya pada kaca dan roman muka orang-orang yang melintas. Pemandangan alam menandakan kesuburan. Rumah-rumah penduduk umumnya terbuat dari papan kayu dan pendek.

18.15: Toba Samosir

Kisaran duapuluh menit berikutnya, kami melewati Silombu, Bonatua Lunasi, desa indah yang dikelilingi gunung dengan sawah terhampar, lebih menakjubkan dari sulaman permadani dari Turki. Pelajaran menggambar tingkat dasar biasanya dimulai dengan cara melukis pemandangan seperti ini.

18.50: magrib di sini, isya di sana, ketika bis kami mencapai Porsea. Tentu saja tak akan terdengar azan jika yang banyak berdiri adalah gereja. Sejak Siantar hingga Tarutung, rerata penduduk adalah Nasrani. Muslim tentu saja juga ada, tapi tak seberapa, begitu saja dugaan saya.

Sempat saya merasa dekat sekali dengan rumah, entah karena rindu atau karena gelisah, saat melihat papan nama “Blega”. Eh, salah! Ternyata yang benar adalah “Balige”, sebab “Blega” itu ada di Bangkalan sementara “Belgia” beda lagi, itu di Eropa. Balige (huruf ‘e’ dibaca seperti pada kata Medan) merupakan kotanya Toba Samosir. Ingat kisah Malin Kundang, kan? Ya, hubungan Danau Toba dan Pulau Samosir dekat sekali dengan namanya.

Jurang yang dalam bersebelahan dengan tebing serta dikungkung hutan adalah "kata pengantar" untuk masuk ke teks yang lebih besar lagi, yakni lintasan jalan menakjubkan di area Tapanuli Utara. Istilah hiperbolanya: ekor belum selesai melewati tikungan, moncongnya sudah belok lagi. Kru ambil ‘poin’ di Simpang Sipahutar, Siborong-borong (orang Batak suka banget sama "si" sebagaimana orang Sunda suka banget sama "ci"). Pemandangan alam dan ruas jalan masih sama sedari tadi: naik-turun dan tikung-menikung.

Setelah melewati Gunung Kulabu, istirahatlah kami di sebuah rumah makan, di tengah wilayah yang mirip hutan. Jam menunjukkan pukul 22.10. Odometer sudah mencapai 311 kilometer. Bisa dibayangkan, betapa jalan yang kami tempuh 10 jam lamanya sejak tadi siang hanyalah untuk 300-an kilometer. Di Jawa, waktu segitu lamanya bisa untuk melalap 500 km lebih jauhnya.

Saya ikut-ikutan makan meskipun tak lapar-lapar benar. Taripnya rerata 25.000 rupiah. Bis malam tanpa servis makan adalah pemandangan umum di sini. Begitu, sih, katanya. Kalau dompet Anda tak begitu tebal dan saldo ATM juga tinggal lima digit, jangan macam-macam dengan menu makanan.

Bis berjalan lagi setelah sebagian penumpang menunaikan shalat. Di hadapan, jalan menurun terjal langsung menghadang, dibumbui serakan tanah berkerakal sisa longsor. Rinai hujan masih terus berlangsung. Memang, sejak tadi, gerimis dan mendung berganti peran di tengah jalan. Terang dan terik tak dapat bagian.

Saya tidur dan melek hanya untuk melongo: kenapa tikungan dan kelokan ini tak ada habisnya? Hanya sesekali kami berpapasan dengan sesama bis: A.L.S di Toba, tadi, dan tampak mengangkut banyak barang di atas atap pertanda baru pulang dari Jawa; yang kedua dengan PO Sipirok Nauli, tengah malam, di Sipetang, kisaran pukul 23.00, dekat perbatasan Tapanuli Utara-Selatan.

Di sekitar Pahae, jalan rusak parah. Ada dua lokasi yang jalannya bahkan mirip undakan sehingga tangga kaki depan armada bis All New Lagecy Sky ini 'gasruk' di saat menurun dan bumper belakang giliran yang nyangkut di saat naik. Kernet turun untuk membantu sopir dengan aba-aba "santai, santai, santai..." pandunya untuk ganti kata "kalem" bagi istilah kernet di tempat kami. Kini saya mengerti, mengapa bis ini sudah didempul depan-belakang meskipun secara umum catnya masih baru. Di luar itu, sebagian jalan "hanyalah" bolong-bolong yang akan membuat penumpang Avanza mengaduh kalau melaju tapi tidak begitu terasa bagi bis yang menggunakan suspensi udara.

Padang Matinggi: 5.30

Alam masih gelap sekali, begitu pula suasana Gunung Ranti dan Kota Randah (saya curiga salah baca papan nama terhadap kedua tempat ini), sama saja. Rumah penduduk yang berjauhan letaknya menambah kesan sepi. "Sumatra banget"-lah pokoknya.

Bis berhenti lagi, memberikan kesempatan penumpang untuk menunaikan shalat subuh di Fathun Nur, sebuah masjid di Panti, pukul 06 lewat ‘sikit’. Di masjid itu, airnya melimpah. Dan kian tenang rasanya sebab kami masih nutut bermakmum, shalat berjamaah.

Masuk Lubuk Sikaping, akses jalan mulai lebih lebar dan lebih "mobiliawi" ketimbang yang sudah-sudah, tapi kelak keloknya justru semakin sadis dan menakutkan. Semalam suntuk tak cukup rupanya ruas jalan Sumut-Sumbar ini menggoyang-goyang kami. Apakah kami ini dianggapnya adonan martabak yang harus dikocok dulu supaya mengembang dan lebih enak? Meski begitu, saya semakin takjub dengan trek ini. Rasanya pengen diulang lagi.

Di Pasaman, jalan mulai menurun, melewati hutan lebat yang memadukan dinding tanah berpohon tinggi dan sungai deras atau jurang yang dalam, jurang yang tak ada tempat yang lebih dalam lagi darinya kecuali rahasia seseorang yang mencintai seseorang saat mengungkapkannya adalah sesuatu yang mustahil.

Ketika kami melewati Rao dan Bonjol, saya ingat Tuanku Rao dan Tuanku Imam Bonjol, tapi pada saat melintasi Palupuh hingga Sipisang yang menanjak, yang saya ingat adalah kengerian-kengerian lain di jalanan. Tikungan kian menjadi-jadi. Kerap kali sopir haus makan jalan lawan hanya untuk menyelamatkan roda belakang supaya tak terpesok ke tepian atau malah jatuh ke jurang. Saat berpapasan dengan truk besar, repotnya lebih-lebih lagi, bisa dibayangkan betapa repotnya pada saat akan mendahului. Di tempat seperti ini, para sopir akan mengerti betul slogan "jalan raya milik bersama". Tapi, mereka terkadang kembali lupa saat melewati jalan yang lebar, kembali semena-mena.

Setelah melewati trek ini, anggapan saya terhadap trek Yungas di Bolivia sebagai jalur paling berbahaya itupun berkurang kesan seramnya, tidak seheboh seperti yang dibesar-besarkan media. Memang, di sana, lintasannya berjarak 60-an kilometer dengan jurang yang sangat dalam. Namun, ingalah, trek ini, meskipun jurangnya tidak sedalam di sana, tapi kelak-keloknya tidak habis ditempuh walapun semalam suntuk. Kurang apa?

Ketika masuk wilayah Bukittinggi, matahari sudah meninggi. Cahayanya menjelaskan keindahan alam yang sebenar-benarnya. Dua gunung yang memberi inspirasi latar kepada Marah Rusli saat menulis roman Sitti Nurbaya itu, Gunung Marapi dan Singgalang, sekarang saya saksikan sendiri.

"Wal jibaala autada!"

Barangkali, salah satu potongan surga itu memang dilemparkan ke sini sebagai miniaturnya, untuk direnungkan terutama bagi orang yang mengunjunginya langsung, bukan hanya bagi mereka yang mengunjunginya dengan 'like' di YouTube dan/atau Instagram. Lalu, apakah rahasia Tuhan sehingga keindahan alam dilimpahkan begitu banyak ke tempat ini sehingga tanah saya hanya kebagian tandusnya saja? Saya tahu reka-rekaan jawabannya, tapi hal itu tidak akan disampaikan sekarang. Kedahsyatan lintasan dan keindahan alam harus ditunjukkan, tidak cukup hanya dikabarkan.

Bus Medan Bukit Tinggi

Di Buki' nan tinggi, saya merendah: jangan biarkan aku lupa untuk memuji keindahan lain yang tak tampak di mata zahir, keindahan mulut yang mau memuji kawan yang benar; menegur kawan yang salah, dan bibir yang basah saat mengucap syukur atas segala anugerah.

* Medan - Bukittinggi

6-7 Maret 2018
PO A.L.S (BK-3701-UA)
seat 2-2 Legacy SR-1
Waktu tempuh: 20 jam
Jarak tempuh: 610 km (kira-kira; bukan 400-an seperti dihitung semula)
Tiket: Rp215.000

#sabangmadura



Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar